Peribahasa Tiongkok dalam Kehidupan Sehari-hari: Kisah di Balik Ungkapan Umum

Empat Karakter, Berabad-abad Makna

Idiom Tionghoa — 成语 (Chéngyǔ) — hampir selalu terdiri dari tepat empat karakter, dan hampir selalu berakar dari peristiwa sejarah tertentu, teks klasik, atau cerita rakyat. Mereka berfungsi sebagai memori budaya yang terkompresi: sebuah frasa empat karakter saja bisa membangkitkan seluruh cerita yang diketahui setiap pembicara Tionghoa terpelajar. Menggunakannya dengan baik menandakan bahwa Anda terdidik dan sadar budaya; menggunakannya dengan salah menandakan bahwa Anda berpura-pura.

Ada ribuan chéngyǔ yang masih aktif digunakan. Kamus mencatat lebih dari 20.000. Berikut adalah beberapa yang paling sering dijumpai, beserta cerita yang memberi mereka makna.

Kisah yang Benar-benar Diketahui Orang

画蛇添足 (Huà Shé Tiān Zú) — "Menggambar ular dan menambahkan kaki"

Selama periode Negara-Negara Berperang, beberapa pria bersaing untuk menyelesaikan sebotol anggur. Aturannya: siapa pun yang menggambar ular pertama akan memenangkan minuman tersebut. Seorang pria selesai jauh di depan yang lain dan, merasa sombong, memutuskan untuk menambahkan kaki pada ularnya saat menunggu. Pria lain menyelesaikan ularnya yang tidak memiliki kaki dan mengambil anggur tersebut, dengan argumen yang benar bahwa ular tidak memiliki kaki — jadi pria pertama tidak menggambar ular sama sekali. Idiom ini berarti merusak sesuatu dengan menambahkan hiasan yang tidak perlu. Setiap desainer, editor, dan manajer proyek harus tahu ini. Bacaan terkait: Bahasa Tionghoa: Mengapa Itu Sungguh Sulit dan Indah.

守株待兔 (Shǒu Zhū Dài Tù) — "Menjaga pangkal pohon menunggu kelinci"

Seorang petani dari negara Song melihat seekor kelinci berlari langsung ke pangkal pohon dan mati. Senang dengan makan malam gratis ini, ia meninggalkan pekerjaannya dan duduk di samping pangkal pohon setiap hari menunggu kelinci lain untuk mengulangi penampilan itu. Tidak ada yang melakukannya. Ladangnya menjadi terlantar. Idiom ini menggambarkan siapa pun yang mengharapkan kecelakaan beruntung untuk terulang kembali daripada melakukan pekerjaan nyata. Ini muncul dalam 韩非子 (Hán Fēi Zǐ), sebuah teks filosofis Legalist dari abad ke-3 SM.

对牛弹琴 (Duì Niú Tán Qín) — "Memainkan kecapi untuk seekor sapi"

Seorang musisi bernama 公明仪 (Gōng Míng Yí) pernah menampilkan sebuah karya yang sangat indah untuk seekor sapi. Sapi itu terus memakan rumput. Musisi itu tidak buruk; audiensnya yang salah. Idiom ini menggambarkan membuang-buang keindahan kata-kata atau keterampilan pada seseorang yang tidak mampu menghargainya. Biksu Buddha 牟融 (Móu Róng) menggunakannya dalam sebuah teks yang berargumen bahwa konsep Buddha membutuhkan penjelasan yang lebih sederhana untuk cendekiawan Konfusian — sebuah sindiran diplomatik yang mengejutkan.

塞翁失马 (Sài Wēng Shī Mǎ) — "Orang tua di perbatasan kehilangan kudanya"

Seorang pria tua yang tinggal dekat perbatasan kehilangan kudanya. Tetangganya menawarkan simpati. "Bagaimana kau tahu ini bukan keberuntungan?" jawabnya. Kuda itu kembali, membawa seekor kuda liar bersamanya. "Bagaimana kau tahu ini bukan nasib buruk?" Anak lelaki orang tua itu menunggangi kuda liar tersebut, terjatuh, dan mematahkan kakinya. "Bagaimana kau tahu ini bukan keberuntungan?" Ketika perang datang, cedera anak itu mengecualikannya dari wajib militer, menyelamatkan nyawanya. Idiom ini mengajarkan bahwa keberuntungan dan nasib buruk saling terkait dan tidak terduga — sebuah

Tentang Penulis

Pakar Budaya \u2014 Penulis dan peneliti yang mencakup luasnya tradisi budaya Tiongkok.

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit